INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, kembali meningkat di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan Kobar mencatat 506 kasus pada minggu epidemiologi ke-40 tahun 2026, naik 32,5 persen dibandingkan pekan sebelumnya, Selasa (20/10/2026).
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) hingga 20 Oktober 2026, jumlah kasus ISPA pada minggu ke-39 tercatat sebanyak 382 kasus. Dalam satu pekan, angka tersebut bertambah menjadi 506 kasus. Kenaikan ini menunjukkan kasus ISPA masih bergerak fluktuatif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, mencatat peningkatan kasus ISPA cukup menonjol pada akhir Juli hingga awal Agustus. Pada periode tersebut, aktivitas karhutla di Kobar juga meningkat.
Pada minggu epidemiologi ke-28, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 335 kasus. Angka itu meningkat menjadi 457 kasus pada minggu ke-29 dan mencapai puncak 566 kasus pada minggu ke-31. Setelah mengalami penurunan dan fluktuasi selama beberapa pekan, kasus kembali meningkat pada minggu ke-40.
Pola tersebut menjadi perhatian karena peningkatan kasus ISPA terjadi beriringan dengan aktivitas karhutla. Paparan asap dan partikel hasil pembakaran berpotensi memicu gangguan saluran pernapasan, terutama ketika masyarakat terpapar asap dalam waktu lama.
Meski demikian, kesamaan waktu antara peningkatan kasus ISPA dan aktivitas karhutla belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Penilaian lebih lanjut perlu mempertimbangkan kondisi kualitas udara, cuaca, infeksi saluran pernapasan, serta faktor epidemiologis lainnya.
Selain ISPA, Dinas Kesehatan Kobar mencatat peningkatan kasus pneumonia dari 25 menjadi 30 kasus pada minggu ke-40. Kasus influenza-like illness (ILI), yaitu penyakit dengan gejala menyerupai influenza, juga meningkat dari 5 menjadi 16 kasus dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara itu, kasus diare akut justru menurun dari 107 kasus pada minggu ke-39 menjadi 102 kasus pada minggu ke-40. Meski mengalami penurunan, faktor sanitasi, kebersihan lingkungan, keamanan pangan, dan ketersediaan air bersih tetap perlu diperhatikan untuk mencegah gangguan kesehatan.
Di tengah kondisi karhutla, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah. Anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap.
Warga yang mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk disarankan segera mencari pertolongan medis. Pemantauan berkala terhadap tren penyakit dan edukasi kesehatan masyarakat juga penting dilakukan agar peningkatan kasus dapat direspons berdasarkan perkembangan data dan kondisi di lapangan.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian