INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami deflasi sebesar 0,53 persen secara bulanan (month to month/m-to-m) pada Mei 2025. Hal ini menjadikan Kalteng sebagai provinsi dengan tingkat deflasi terdalam ke-12 secara nasional.
Data tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti, dalam konferensi pers di Ruang Vicon BPS Kalteng, Senin, 2 Juni 2025. Ia
menjelaskan bahwa deflasi ini disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis.
“Komoditas penyumbang deflasi terbesar antara lain cabai rawit sebesar -0,21 persen, ikan gabus sebesar -0,17 persen, dan bawang merah sebesar -0,05 persen,” kata Agnes.
Selain itu, ikan nila dan bayam juga turut memberikan andil penurunan harga masing-masing -0,05 persen dan -0,03 persen. Penurunan harga terjadi karena melimpahnya pasokan saat musim panen, baik dari lokal maupun luar daerah seperti Jawa dan Banjarmasin.
Tidak hanya cabai dan bawang, beberapa komoditas lain seperti daging ayam ras, ikan papuyu, dan bawang putih juga tercatat mengalami penurunan harga. Secara umum, fenomena ini menunjukkan kondisi harga yang relatif stabil dan terkendali di wilayah Kalteng.
Agnes menambahkan, secara spasial, empat wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalteng seluruhnya mengalami deflasi. Kabupaten Kapuas mencatat deflasi tertinggi sebesar 1,43 persen, disusul Kabupaten Sukamara sebesar 0,27 persen, Kota Palangka Raya 0,15 persen, dan Kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit) sebesar 0,08 persen.
“Cabai rawit dan bawang merah menjadi komoditas dominan yang menyumbang deflasi di seluruh kabupaten/kota tersebut,” ujarnya.
Namun demikian, terdapat juga sejumlah komoditas yang justru mengalami inflasi, seperti tomat, tarif pulsa ponsel, dan emas perhiasan, yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen terhadap inflasi.
Harga emas perhiasan meningkat seiring dengan kenaikan harga emas dunia dan pengaruh nilai tukar rupiah. Sementara tarif pulsa ponsel meningkat karena perubahan tarif dari operator seluler.
Editor: Andrian