website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Asap Karhutla di Kobar Batasi Jarak Pandang, BMKG Lacak Sebaran dari Tenggara

Kondisi jarak pandang pengendara terganggu kabut asap karhutla di Kobar. (Ist)

INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membatasi jarak pandang di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, Jumat, 23 Oktober 2026. Di Kecamatan Kumai, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 30 meter. Adapun di Pangkalan Bun, jarak pandang berkisar 50 meter. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga dan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya.

Narti, warga Kumai, mengatakan asap tebal membuat pandangan ke arah depan sangat terbatas. Pengendara harus lebih berhati-hati karena kondisi jalan dan kendaraan lain sulit terlihat dari jarak aman.

Keluhan serupa disampaikan Joni, warga Pangkalan Bun. Saat mengantar istrinya ke pasar melalui Jalan Rambutan, ia hampir terjatuh karena tidak melihat lubang di jalan yang tertutup asap. “Sayang tadi pas lagi antar istri ke pasar lewat Jalan Rambutan, enggak kelihatan ada lubang, hampir terjatuh,” ujar Joni, Jumat.

Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat, Maulidianto, mengatakan arah sebaran asap terindikasi berasal dari wilayah tenggara Pangkalan Bun, termasuk kawasan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dan Kabupaten Seruyan. Informasi tersebut menjadi petunjuk mengenai pergerakan asap, tetapi tidak serta-merta memastikan lokasi sumber kebakaran.

Pasang Iklan

Indikasi sebaran asap itu muncul di tengah tingginya jumlah titik panas yang terdeteksi di sejumlah wilayah Kobar. Berdasarkan peta sebaran titik panas BMKG yang diolah dari data FIRMS, terdapat 1.104 titik panas di Kobar pada 21 Oktober 2026. Sebanyak 1.016 titik di antaranya terdeteksi di Kecamatan Kumai.

Sehari kemudian, jumlah titik panas yang terdeteksi turun menjadi 426 titik. Kecamatan Kumai masih mendominasi dengan 408 titik, sedangkan sisanya tersebar di kecamatan lain. Penurunan angka tersebut menunjukkan berkurangnya titik panas yang terdeteksi pada hari itu, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh kebakaran telah padam.

Maulidianto menyebut wilayah sekitar TNTP dan Seruyan perlu diperhatikan dalam memantau arah sebaran asap. Kecamatan Kumai juga mencatat peningkatan titik panas dibandingkan hari sebelumnya, berdasarkan data yang disampaikan. Meski demikian, penentuan sumber kebakaran secara pasti tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di lapangan.

Titik panas merupakan indikator yang dideteksi melalui pengamatan satelit, bukan bukti bahwa setiap titik pasti merupakan kebakaran aktif. Karena itu, data tersebut perlu dibaca bersama informasi kondisi lapangan, perkembangan cuaca, serta pemantauan sebaran asap untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai situasi karhutla.

Dampak asap dirasakan langsung oleh warga, terutama pengguna jalan. Jarak pandang yang hanya puluhan meter menyulitkan pengendara mengenali lubang, kendaraan di depan, maupun kondisi jalan. Pengendara diimbau mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menyalakan lampu kendaraan sesuai kondisi, dan menepi di tempat aman apabila pandangan terlalu terbatas.

Kabut asap yang masih menyelimuti Kobar menunjukkan bahwa penurunan jumlah titik panas harian tidak otomatis menghilangkan gangguan di permukiman dan jalan raya. Pemantauan titik panas, penelusuran sumber kebakaran, serta penanganan karhutla diperlukan untuk menekan risiko keselamatan dan dampak asap terhadap masyarakat.

Pasang Iklan

Penulis: Yusro
Editor: Andrian

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan
Halo Sahabat Intimnews

Pastikan Selalu Update Berita Terbaru

Pasang Iklan Ikuti Saluran
error: Content is protected !!