INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah berdampak langsung pada pelaksanaan program pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Penurunan anggaran ini dirasakan signifikan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Kalteng.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng, Rahmawati, mengungkapkan bahwa alokasi anggaran pada tahun 2026 mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut dia, pengurangan anggaran tersebut bahkan mencapai angka yang cukup besar dan memengaruhi hampir seluruh program pembinaan yang dijalankan dinas.
“Penurunan anggaran di Dinas Koperasi dan UKM bisa sampai 60 persen. Ini tentu sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan program,” ujar Rahmawati saat diwawancarai awak media beberapa waktu lalu.
Dengan keterbatasan anggaran tersebut, pemerintah daerah tidak lagi memiliki ruang fiskal yang cukup untuk memberikan bantuan langsung kepada pelaku UMKM dalam jumlah besar seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sebagai alternatif, strategi pembinaan UMKM kini lebih difokuskan pada pendampingan usaha serta peningkatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan kewirausahaan.
“Kami memang tidak bisa memberikan bantuan modal secara langsung, tetapi tetap melakukan pendampingan dan pelatihan agar UMKM bisa bertahan dan berkembang,” jelasnya.
Efisiensi anggaran juga berdampak pada pelaksanaan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dalam kondisi saat ini, setiap kabupaten hanya dapat difasilitasi antara dua hingga empat koperasi.
Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan banyaknya KDKMP yang telah terbentuk di masing-masing daerah dan membutuhkan pembinaan lanjutan.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran, Pemprov Kalteng menegaskan tetap berupaya memaksimalkan program yang ada agar manfaatnya tetap dirasakan pelaku UMKM.
Rahmawati berharap ke depan ada kembali dukungan pendanaan dari pemerintah pusat agar program pemberdayaan UMKM di Kalteng dapat berjalan lebih optimal dan menjangkau lebih banyak pelaku usaha.
Editor: Andrian