INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Polemik pengelolaan kawasan wisata Air Hitam Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya, dipastikan berlanjut ke aksi massa. Tokoh pemuda Kereng Bangkirai sekaligus advokat, Ersa Nugraha, memastikan akan memimpin aksi bertajuk “Peduli Wisata” yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Januari 2026 di Kantor Wali Kota Palangka Raya.
Aksi tersebut menjadi lanjutan dari kegelisahan masyarakat atas tata kelola pariwisata Kereng Bangkirai yang dinilai tidak berjalan optimal dan minim keberpihakan terhadap warga lokal yang menggantungkan hidup dari sektor wisata.
Ersa menegaskan, aksi ini merupakan ruang penyampaian aspirasi masyarakat secara terbuka kepada Pemerintah Kota Palangka Raya, khususnya terkait pengelolaan destinasi wisata yang selama ini menjadi kebanggaan warga.
“Ini suara masyarakat. Kami ingin menyampaikan langsung aspirasi pelaku wisata kepada Wali Kota Palangka Raya. Pariwisata seharusnya memberi manfaat nyata bagi warga sekitar, bukan justru meminggirkan mereka,” ujar Ersa saat dihubungi Intimnews, Senin 5 Januari 2026.
Selain orasi dan penyampaian tuntutan, aksi Peduli Wisata juga akan dirangkai dengan penyerahan karangan bunga kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Palangka Raya. Karangan bunga tersebut menjadi simbol keprihatinan sekaligus pesan moral atas kondisi pengelolaan pariwisata yang dinilai belum mencerminkan semangat pemberdayaan masyarakat.
Tak hanya berhenti di kantor wali kota dan Disparbudpora, massa aksi juga berencana melanjutkan aksi ke Kejaksaan Negeri Palangka Raya. Dalam agenda tersebut, masyarakat akan menyampaikan tuntutan agar aparat penegak hukum memeriksa Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari wisata Air Hitam Kereng Bangkirai.
Ersa menyebutkan, selama ini masyarakat menilai tidak ada transparansi terkait pengelolaan dan besaran PAD yang dihasilkan dari kawasan wisata tersebut, meskipun Kereng Bangkirai menjadi salah satu destinasi unggulan Kota Palangka Raya.
“Kami meminta Kejaksaan Negeri Palangka Raya melakukan pemeriksaan terhadap PAD wisata Air Hitam. Selama ini tidak pernah ada keterbukaan soal pemasukan dan pengelolaannya,” tegas Ersa.
Ia menilai, transparansi PAD menjadi bagian penting dari tata kelola pariwisata yang sehat dan akuntabel, sekaligus untuk memastikan bahwa pendapatan daerah benar-benar kembali memberi manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan wisata.
Ersa menyebutkan, pihaknya akan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Kapolres Kota Palangka Raya paling lambat 3×24 jam sebelum pelaksanaan aksi, sesuai ketentuan perundang-undangan. Massa yang terlibat diperkirakan mencapai sekitar 400 orang, terdiri atas pelaku usaha wisata, masyarakat Kereng Bangkirai, serta unsur pemuda.
Menurut Ersa, wisata Air Hitam Kereng Bangkirai merupakan salah satu ikon pariwisata dan kebanggaan masyarakat Palangka Raya, sehingga pengelolaannya tidak boleh dilakukan secara serampangan. Ia menilai, pengembangan kawasan tersebut hingga kini belum didukung perencanaan yang matang, baik dari sisi manajemen, pemberdayaan masyarakat lokal, maupun transparansi pengelolaan pendapatan.
“Kalau tidak memiliki keahlian dan komitmen dalam mengelola pariwisata, lebih baik mundur demi kemajuan pariwisata Palangka Raya,” tegasnya.
Ersa juga kembali menyinggung fakta bahwa sebagian lahan masyarakat Kereng Bangkirai telah dihibahkan kepada Pemerintah Kota Palangka Raya untuk pengembangan kawasan wisata, dengan harapan membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan warga setempat.
“Masyarakat tidak sedang mencari konflik. Yang kami tuntut adalah pengelolaan pariwisata yang serius, terukur, dan berdampak langsung bagi warga. Kereng Bangkirai ini aset kota, bukan sekadar objek seremonial,” ujarnya.
Melalui aksi Peduli Wisata, masyarakat mendesak evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Disparbudpora Kota Palangka Raya, termasuk pola pengelolaan destinasi, keterlibatan masyarakat lokal, serta arah pengembangan pariwisata jangka panjang.
Ersa menegaskan, aksi tersebut merupakan upaya korektif agar sektor pariwisata dikelola secara profesional dan berkelanjutan, sehingga benar-benar menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Kereng Bangkirai sekaligus kebanggaan Kota Palangka Raya.
Editor: Andrian