INTIMNEWS.COM, SAMPIT – Dalam aksi pembobolan kotak amal di masjid Nurul Iman Al-Juhari, Jalan tidar 4, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Rabu 29 Juli 2025 kemarin. Terdapat cerita menarik dari teknisi masjid yang membuat alat keamanan yang sangat hebat.
Pelaku yang tertangkap basah oleh warga ternyata dikarenakan sebuah sistem keamanan yang secara otomatis diaktifkan oleh pelaku secara tidak sengaja yakni suara murottal Al-quran ya g secara otomatis aktif sesaat kotak amal dibuka.
Adi Nugroho adalah sosok di balik ide cemerlang tersebut mengatakan jika masjid selain dilengkapi dengan kamera CCTV, kotak amal masjid tersebut memang sudah dibekali alarm khusus. Suara alarm akan langsung terdengar oleh warga sekitar yang kemudian mengetahui keberadaan pelaku.
“Sistem pengamanan ini memang sengaja dipasang untuk mencegah pencurian serupa yang sering kali terjadi belakangan ini,” kata Adi, Kamis, 31 Juli 2025.
Pria yang merupakan teknisi di Masjid Nurul Iman Al-Juhari ini mengaku sengaja merakit sendiri alat tersebut untuk menjaga amanah para donatur masjid. Ia merasa terpukul ketika suatu kali maling menggasak habis isi kotak amal, lalu membuang kotaknya ke semak-semak di belakang masjid.
“Dulu ada maling di masjid, uangnya diambil dan kotak amalnya dibuang ke semak-semak. Itu rasanya sakit sekali karena sama saja dia (pencuri) melakukan penghinaan,” ujarnya.
Sistem keamanan tersebut dirakit secara khusus oleh Adi sendirian dengan bermodalkan beberapa alat yang harganya cukup murah dan mudah untuk didapatkan.
Alat tersebut kemudian dipasang di tiga kotak amal yang terletak di dalam masjid. “Jika ada orang membuka pintu kotak amal itu, secara otomatis akan memutar file MP4 berisi lantunan Al-Quran di ruang kontrol,” ungkapnya
Warga pun telah disosialisasikan bahwa jika murottal terdengar di luar jam menjelang salat, maka hal itu patut dicurigai sebagai indikasi adanya aksi pencurian.
“Alat yang diperlukan hanya limit switch seharga sekitar Rp5 ribu yang dipasang di kotak amal, lalu kabel telepon yang panjangnya disesuaikan. Satu meter harganya Rp3 ribu yang menghubungkan ke ruang kontrol. Di ruang sistem terdapat dua buah relay 14 volt, satu buah seharga Rp50 ribu. Sebut saja alatnya Kotak Amal Protektor,” kata pria yang merupakan mantan pimpinan PLTD PLN Baamang itu.
Adi menjelaskan jika cara kerja alat tersebut cukup sederhana, yang mana ketika pintu kotak amal dibuka oleh selain pengurus, maka akan mengaktifkan stop kontak atau switch yang terhubung ke ruang kontrol masjid.
Hal itu kemudian akan mengaktifkan sistem suara (sound system, red) yang sudah dimodifikasi, sehingga otomatis memutar lantunan murottal Al-Quran melalui speaker luar masjid, berdasarkan perintah dari sensor switch yang terpasang di kotak amal.
“Masyarakat di sini kalau mendengar suara pengajian di luar jamnya, mereka langsung tahu itu pertanda ada maling,” bebernya.
Alat tersebut juga sudah dilengkapi sistem cadangan. Jika kabel sengaja diputus atau alat dirusak, speaker yang memutar murottal tetap akan menyala. Berkat ide cemerlang ini, pelaku kejahatan dibuat kalang kabut karena aksinya langsung ketahuan dan dikepung warga. Menurut pria lulusan Institut Teknologi Nasional (STTNas) Yogyakarta ini, sudah banyak pencuri yang tertangkap basah berkat alat temuannya yang telah dipasang lebih dari lima tahun itu.
“Dulu ada maling yang begitu suara murottal terdengar, dia panik dan langsung kabur. Sampai tasnya yang berisi banyak HP yang mungkin hasil curian dan sepeda motor yang masih baru ditinggalkan. Itu malingnya dermawan,” ucapnya.
Meski alat rakitannya baru dipasang di Masjid, ia tidak menutup diri jika ada yang meminta dirinya untuk memasang alat serupa di tempat lain. “Kalau ada yang meminta saya memasang, monggo. Alat-alatnya sangat mudah didapatkan di toko-toko elektronik,” imbuhnya.
Ia menganggap bahwa dana sedekah di kotak amal adalah amanah dari para donatur. Maka, dengan keilmuan yang dimilikinya, ia bertekad menjaga amanah tersebut.
Penulis: Oktavianto
Editor: Andrian