
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Krisna Adi Darmatama menjadi satu dari pesepak bola Indonesia yang terseret kasus pengaturan skor atau match fixing. Atas kasus itu, Krisna pun mendapat hukuman berat. Yakni, larangan bermain sepak bola seumur hidup.
Setelah menerima sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI pada Desember 2018 lalu, kehidupan Krisna Adi berubah total. Tidak bisa bermain sepak bola di liga Indonesia lagi karena terhalang sanksi. Untuk bertahan hidup, ia harus mencari sumber penghasilan lain.
“Saya sempat kerja di ekspedisi, nyopir tapi cuma sebulan. Apa saja saya lakukan, bikin kaos juga lalu saya jual, bahkan dirinya berharap pada sepak bola antar kampung (Tarkam), untuk bisa bertahan hidup,” ungkap Krisna usai membela Samudra FC Kumai dalam turnamen Agustiar Sabran Cup, Kamis (28/7/2022).
Ya, selama bertahun-tahun belakangan pasca dikenai sanksi, praktis Krisna tak punya penghasilan tetap lantaran hanya kerja serabutan. Berat dan tidak mudah. Terlebih, dirinya mengaku tidak memiliki keahlian lain selain bermain sepak bola.
Bagi Krisna, sepak bola adalah segalanya. “Ya, sekarang bingung karena passion memang di bola. Makanya begitu ada tawaran main tarkam di Agustiar Sabran Cup ini langsung ia terima,” ujarnya.
Soal kasusnya, sebetulnya Krisna pernah menemui PSSI untuk mengajukan banding. Kala itu ia datang ke kantor PSSI di Jakarta bersama sang kakak, Johan Arga. Hanya, upaya tersebut berakhir sia-sia. Sebab, aturan banding berlaku maksimal tiga hari setelah sanksi keluar. “Tapi waktu itu kan saya terkendala kecelakaan parah, jadi tidak bisa mengajukan banding pas Desember 2018,” keluhnya.
“Saya berharap kepada Ketua PSSI Bapak Mochamad Iriawan agar bisa memberikan keringanan atas yang menimpa dirinya,” ucap Krisna, usai bermain Sepak Bola Agustiar Sabran Cup ini.
Meski demikian, hal tersebut tak membuat harapan Krisna bermain sepak bola luntur. Ke depan, dia berencana kembali mengajukan banding dan permohonan maaf agar sanksi itu bisa diputihkan atau dihilangkan.
Tentunya dengan harapan Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) maupun pihak terkait bisa membantunya keluar dari jeratan sanksi.
Saat ini, Krisna masih aktif berlatih sepak bola tarkam, klub terbaru yang dibelanya yakni Samudra FC Kumai. Selain untuk mengobati rasa kangen dengan si kulit bundar, sekaligus untuk menjaga touch bola jika suatu saat nanti dirinya bisa merumput kembali.
Namun, ia sempat bertanya kepada diri sendiri, ke mana muaranya. “Saya cuma latihan, main bola cuma Tarkam, main baikpun tak bisa kemana-mana tapi nggak bisa karena masih ada sanksi. Nah, itu yang bikin saya down,” tambah Krisna.
Selama berkarir sebagai pesepak bola, bapak satu anak ini pernah membela beberapa klub. Salah satunya PSIM Jogja. Karir profesional Krisna dimulai dari PSIM. Dia sempat berkostum klub berjuluk Laskar Mataram itu selama dua musim, medio 2015-2017. Bahkan, pria kelahiran 21 April 1995 ini tercatat menjadi top skor PSIM pada 2017 silam. Saat itu, Krisna berhasil membukukan sebanyak tujuh gol.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian