website murah
website murah
website murah
website murah
Pasang Iklan

Huma Betang Diarusutamakan dalam Kurikulum Sejarah Nasional

INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA — Provinsi Kalimantan Tengah menjadi tuan rumah Simposium Nasional Guru Sejarah Indonesia VII yang digelar hingga 2 November 2025. Acara ini mempertemukan ratusan guru, akademisi, dan pemerhati sejarah dari 34 provinsi untuk membahas arah pembelajaran sejarah di masa depan.

Simposium dibuka oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Kalteng yang menegaskan pentingnya peran guru sejarah dalam menjaga kesinambungan ingatan kolektif bangsa. Dalam sambutannya, ia menyebut guru harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi derasnya arus informasi dan perubahan sosial.

Kegiatan tahun ini mengusung tema penguatan identitas lokal dalam pembelajaran sejarah. Tema tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan memperkaya materi sejarah nasional dengan konteks daerah agar siswa memahami keragaman warisan budaya Indonesia.

Salah satu isu yang menjadi sorotan utama adalah upaya mengintegrasikan filosofi Huma Betang ke dalam kurikulum sejarah nasional. Huma Betang, sebagai simbol kebersamaan dan toleransi masyarakat Dayak, dinilai relevan untuk mendukung pembelajaran karakter di sekolah.

Pasang Iklan

Narasumber dari berbagai universitas memaparkan bahwa penguatan nilai lokal bukan berarti memisahkan diri dari narasi nasional. Sebaliknya, nilai daerah dapat menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami keberagaman Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh.

Para guru yang hadir juga mengikuti sesi diskusi tematik. Mereka membahas metode pengajaran yang lebih interaktif, termasuk pemanfaatan teknologi digital untuk menyajikan materi sejarah lokal secara menarik dan mudah dipahami generasi muda.

Simposium ini turut menampilkan pameran kecil berisi artefak budaya, foto sejarah, dan literatur mengenai masyarakat Dayak. Pameran tersebut menjadi pelengkap sesi diskusi sekaligus contoh konkret bagaimana sumber sejarah lokal dapat dikembangkan.

Kepala Dinas Pendidikan Kalteng menekankan bahwa penyelenggaraan simposium di Palangka Raya menunjukkan komitmen daerah terhadap pengembangan pendidikan sejarah. Ia berharap kegiatan ini memicu kolaborasi yang lebih luas antara guru dan lembaga pendidikan.

Sejumlah rekomendasi muncul dari forum ini, salah satunya mendorong pemerintah pusat untuk memberi ruang lebih besar bagi kurikulum muatan lokal. Para peserta menilai bahwa karakter bangsa dapat dibangun kuat jika siswa memahami sejarah tempat mereka berpijak.

Simposium ditutup dengan penyerahan rekomendasi tertulis kepada panitia nasional. Melalui kegiatan ini, Kalteng berharap filosofi Huma Betang dapat menjadi salah satu kontribusi daerah terhadap penguatan identitas nasional di dunia pendidikan.

Pasang Iklan

Penulis Redha

Editor Andrian

 

Berita Rekomendasi
Pasang Iklan