
JAKARTA – Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei elektabilitas capre terbaru. Dalam survei itu, salah satu tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar Pranowo memperoleh elektabilitas sebesar 11,8 persen. Angka ini menyalip elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Terkait hasil survei ini, Ganjar menanggapinya dengan santai dan mengaku tidak begitu tertarik. Menurutnya, tidak etis membicarakan soal pilpres disaat masih mengurusi penanganan pandemi virus corona. “Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membicarakan soal survei,” kata Ganjar di rumah dinasnya, Selasa (9/6).
“Karena sebenarnya dalam kondisi masyarakat seperti ini tidak etis lah ya saya mengomentari yang seperti itu,” lanjutnya. Ganjar mengungkapkan saat ini konsentrasinya hanya berfokus pada penyelesaian pandemi COVID-19, yang masih menunjukkan tren kenaikan kasus, bahkan menghadapi ancaman gelombang kedua.
“Biarlah survei menjadi diskursus publik. Tapi bagaimana saya lebih menyiapkan agar masyarakat segera selesai dengan banyak urusan terkait dengan efek dari pandemi COVID-19 ini. Itu jauh lebih jadi perhatian saya. Jadi yang survei biarkan survei begitu ya, saya mengurus ini saja,” ujarnya.
Survei oleh Indikator Politik Indonesia dilakukan via wawancara sambungan telepon pada 16-18 Mei 2020 terhadap 1.200 responden. Hasilnya, menempatkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di posisi teratas dengan tingkat elektabilitas 14,1 persen. Berada di bawah Prabowo, ada nama Ganjar dengan nilai elektabilitas 11,8 persen. Nilai yang diperoleh Ganjar itu melambung dari survei elektabilitas bulan Februari yang hanya 9,1 persen.
Direktur Eksekutif Indikator Burhanudin Muhtadi menjelaskan, ada dampak penanganan wabah corona oleh para pejabat terhadap peta elektoral mereka jika dikaitkan dengan ajang Pilpres. “COVID punya dampak mengubah peta elektoral karena bisa menjadi pertarungan kepala daerah untuk menunjukkan taringnya. Akibatnya, feasibility capres yang tidak berasal dari kepala daerah jadi berkurang,” jelas Burhanudin dalam paparan survei secara virtual, Minggu (7/6).
Survei tersebut dilakukan kepada responden yang dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018-Maret 2020. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sebesar ± 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.\\\