
INTIMNEWS.COM, SAMPIT – Cabang sepak bola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2023 di Kotawaringin Timur (Kotim) memiliki sejumlah kekacauan pengelolaan. Terjadinya tiga tim yang berada diruang ganti pemain untuk memperebutkan medali emas jadi bukti Porprov 2023 tidak baik baik saja.
Kacaunya panitia diungkapkan oleh Yusro Arodi, jurnalis yang tergabung di persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), berdasarkan protes yang dilayangkan oleh Palangka Raya.
“Dalam partai puncak ada tiga tim berada di ruang ganti pakaian, mereka adalah Kotawaringin Timur, Sukamara, dan Palangka Raya, dan ini menunjukkan betapa bobroknya panitia cabang sepakbola di Porprov tersebut,” kata Yusro Arodi yang juga Head Coach cabang sepak bola Porprov Kobar ini.
Kebobrokan ini terlihat saat memasuki partai perempat final (delapan besar). Saat itu berawal dari kicauan salah satu official Sampit yang mengajaknya ikut memprotes yang dianggap ada beberapa pemain Palangka Raya menggunakan pemain dari luar yang sudah ditetapkan oleh panitia.
“Saat dikonfirmasi ke panitia penyelenggara, panitia berdalih yang mengesahkan adalah panitia besar (PB), kami tidak bisa berbuat banyak, kata salah satu Panpel,” ucap Yusro.
Kasus pemain tidak sah mencuat saat pertandingan antara Kapuas dan Sukamara. Sukamara dianggap memakai pemain dari Jawa yang sebenarnya tidak diperbolehkan, pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Sukamara dan maju ke semifinal.
Melihat kondisi ini, pihak Palangka Raya mengajukan protes sebelum pertandingan dan tidak digubris oleh panitia, dan mereka (Sukamara dan Palangka Raya) bertemu di semifinal dan dimenangkan oleh Sukamara lewat adu pinalti.
Sebelumnya di jam pertama, Kotim vs Kobar dimenangkan oleh Kotim lewat drama adu pinalti juga, yang seharusnya Kotim vs Sukamara bertemu di Final.
“Usai pertandingan, Palangka Raya masih berupaya memprotes pemain Sukamara yang berasal dari Jawa, lagi-lagi panitia tidak bisa memberikan jawaban yang jelas,” sebut Yusro.
Menurut jadwal yang keluar pada perebutan juara ke tiga Kobar vs Palangka Raya, pada hari Jumat (4/8/2023), pukul 07.00 WIB, satu jam sebelum pertandingan Kobar sudah berada di lapangan dan melakukan pemanasan.
Sekitar pukul 06.30 WIB tim dari Palangka Raya tiba dan tidak melakukan pemanasan sama sekali. “Kami bahkan sempat ngobrol dengan jajaran official dari Palangka Raya dan mereka tidak mau bertanding memperebutkan juara ke tiga sebelum pihak panitia memberikan jawaban,” ucap Yusro.
Pihak Kobar tidak mempermasalahkan mereka (Palangka Raya) mengajukan protes, namun keberatan dengan panitia yang mengulur-ulur waktu pertandingan, pihak panitia meminta Kobar menunggu hasil rapat.
“Kami dari pihak Kobar keberatan dan kami hanya meminta keadilan dan sesuai jadwal, saat kami dan manajer tim Kobar berdiskusi lagi, lagi-lagi panitia tidak memberikan kejelasan pertandingan perebutan juara ke tiga dilaksanakan sesuai waktu,” jelasnya.
“Setelah kami dari Kobar memprotes keras baru panitia menyetujui kami Kobar melakukan pertandingan dan Kobar dinyatakan menang WO. Protes masih terus berjalan hingga partai final di sore harinya, Jumat (4/8),” sambung Yusro.
Puluhan ribu masyarakat berbondong-bondong mendatangi stadion, dan mereka berharap bisa menyaksikan pertandingan final tersebut, pertandingan tidak kunjung dimulai, penonton kecewa.
Kami mencoba mencari tahu apa penyebabnya, ternyata didalam ruang ganti pakaian pemain ada tiga tim, mereka Sampit, Sukamara, Palangka Raya, dan ini terasa unik, lucu, menunjukkan betapa bobroknya panitia.
Salah satu panitia menyebutkan kalau Sukamara dinyatakan bersalah dan didiskualifikasi, dan menyatakan pihak Sampit (Kotim) mendapatkan medali emas, dan Kobar mendapatkan medali perak, sementara medali perunggu pihak panitia tidak berani menyebutkan.
Jelas ini mencederai sepak bola nasional dan bahkan dunia, sekelas Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalteng, mirip dengan Tarkam. Bahkan di Tarkam (antar kampung) tidak ada dalam satu partai ada tiga tim apalagi di Final.
“Ini menjadi salah satu perhatian untuk mencari akar masalahnya sebagai bahan untuk kedepannya kalau perlu Erik Thohir turun agar sepak bola benar-benar bersih dari mafia,” tutup Yusro.
Penulis: Yus
Editor: Andrian