INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Provinsi Kalimantan Tengah, Johni Sonder, menegaskan bahwa Aksi Perubahan yang sedang dijalankan melalui aplikasi BERAKSI (BERkoordinasi Atasi MiskomunikaSI) harus memberikan manfaat nyata bagi organisasi. Ia mengingatkan agar kegiatan ini tidak hanya diperlakukan sebagai pemenuhan syarat kelulusan pendidikan dan pelatihan (diklat).
Penegasan itu disampaikan Johni saat membuka Sosialisasi Aksi Perubahan Penguatan Koordinasi Penyusunan Sambutan di Ruang Rapat Biro Adpim, Senin, 21 November 2025. Kegiatan tersebut diikuti oleh pejabat dan staf yang terlibat dalam proses penyusunan sambutan pimpinan daerah.
Dalam arahannya, Johni menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses pengembangan aplikasi BERAKSI. Ia meminta agar setiap tahapan dalam Aksi Perubahan dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan tidak dianggap sebagai rutinitas semata.
Menurutnya, aplikasi BERAKSI dirancang untuk menjawab tantangan koordinasi internal yang selama ini sering menimbulkan kesalahan komunikasi. Karena itu, inovasi ini harus benar-benar mendukung peningkatan kinerja Biro Adpim.
“Proses ini memang menjadi bagian dari syarat diklat, tetapi jangan kita anggap sebagai hal yang biasa saja,” ujar Johni dalam sambutannya. Ia menegaskan kembali bahwa perubahan hanya akan terlihat jika inovasi digunakan secara berkelanjutan.
Johni juga mengingatkan bahwa dirinya telah beberapa kali menyampaikan pentingnya memanfaatkan momentum Aksi Perubahan ini. Ia berharap peserta tidak hanya fokus pada pemenuhan nilai diklat, tetapi juga pada dampak nyata bagi organisasi.
“Kami ingin dan sudah kami sampaikan beberapa kali, pergunakan waktu ini menjadi sesuatu yang berharga,” tegasnya. Menurut Johni, waktu yang diinvestasikan dalam proses inovasi harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan seluruh unit kerja.
Ia menjelaskan bahwa aplikasi BERAKSI sedang melalui tahap uji coba dan menerima berbagai masukan dari pengguna internal. Proses ini menjadi penting untuk memastikan bahwa aplikasi benar-benar sesuai kebutuhan koordinasi penyusunan sambutan pimpinan.
Johni menilai kesinambungan penggunaan aplikasi itu menjadi indikator utama keberhasilan sebuah proyek perubahan. Jika inovasi hanya berhenti setelah diklat selesai, maka tujuan pembenahan tata kerja tidak akan tercapai.
“Aplikasi ini harus menjadi bahan yang terus dikembangkan,” kata Johni. Ia meminta agar tim tetap memberi perhatian pada pemeliharaan dan penyempurnaan sistem meskipun program diklat telah selesai.
Menurutnya, aplikasi BERAKSI diharapkan dapat memperbaiki alur kerja penyusunan sambutan sehingga lebih terkoordinasi, terstruktur, dan minim miskomunikasi. Dengan demikian, pelayanan administrasi kepada pimpinan juga akan berjalan lebih efektif.
Johni juga menegaskan bahwa perubahan tidak akan tercipta jika inovasi berhenti di meja diskusi. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat agar terus menggunakan aplikasi tersebut dalam tugas sehari-hari.
“Jangan hanya proses diklat ini sebagai syarat kelulusan. Hendaknya sesuatu hal yang bermanfaat bagi organisasi,” ujarnya. Pernyataan ini ia sampaikan sebagai dorongan agar setiap peserta merasa memiliki tanggung jawab terhadap perubahan yang sedang dilakukan.
Ia menutup arahannya dengan menyerukan agar seluruh peserta menjaga komitmen terhadap keberlanjutan aplikasi BERAKSI. Menurutnya, keberlanjutan itulah yang menjadi pembuktian bahwa inovasi tersebut benar-benar membawa dampak positif.
Johni berharap aplikasi BERAKSI tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, melainkan menjadi alat kerja permanen yang membantu Biro Adpim meningkatkan kualitas koordinasi dan pelayanan administrasi.
Dengan penegasan tersebut, Sosialisasi Aksi Perubahan diharapkan dapat mendorong peserta untuk lebih aktif terlibat dalam pengembangan dan penerapan aplikasi. Biro Adpim menargetkan aplikasi BERAKSI dapat digunakan secara optimal dalam waktu dekat.
Penulis : Suhairi
Editor : Maulana Kawit