INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Peringatan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Barito Timur dimanfaatkan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran sebagai momentum untuk memperkuat kohesi sosial dan ketahanan budaya di tengah perubahan zaman. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi harus bertumpu pada kekuatan nilai lokal dan persatuan masyarakat.
Dalam upacara yang digelar di Halaman Kantor Bupati, Selasa pagi, 5 Agustus 2025, Gubernur menyampaikan ajakan terbuka kepada seluruh elemen masyarakat Barito Timur untuk menjaga harmonisasi sosial melalui pengamalan filosofi Huma Betang.
Agustiar menekankan bahwa Huma Betang bukan sekadar identitas budaya, tetapi fondasi strategis dalam membangun daerah yang stabil, inklusif, dan berkeadilan.
“Peringatan hari jadi ini bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk memperkuat semangat persaudaraan, kebersamaan, dan persatuan. Di atas semua perbedaan, kita bersatu dalam rumah besar Kalimantan Tengah yang damai dan toleran,” kata Agustiar.
Menurutnya, pembangunan sejatinya tidak akan berhasil hanya karena pertumbuhan ekonomi atau fisik daerah. Keberhasilan sejati lahir dari masyarakat yang rukun, saling menghargai, dan mampu menjaga keutuhan daerah serta bangsa.
“Huma Betang mengajarkan kita bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirangkai jadi kekuatan. Ini modal sosial kita yang tak tergantikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia mengarahkan perhatian khusus kepada generasi muda. Tantangan modernisasi, digitalisasi, dan arus globalisasi dinilai berpotensi mengikis identitas budaya jika tidak disikapi dengan bijak.
“Anak-anak muda harus tetap kenal akar budayanya. Kita bisa modern, bisa digital, tapi jangan sampai tercerabut dari nilai-nilai yang membentuk kita,” tegasnya.
Gubernur kemudian mengaitkan nilai budaya dengan tata kelola pembangunan. Ia mengungkapkan bahwa filosofi Huma Betang telah menginspirasi Pemerintah Provinsi Kalteng dalam merancang Program Prioritas Huma Betang Sejahtera yang akan diluncurkan pada 2026.
Program tersebut dirancang agar pembangunan berlangsung merata dan setiap kelompok masyarakat memiliki ruang berpartisipasi tanpa diskriminasi atau eksklusivitas.
“Kita ingin membangun Kalimantan Tengah dengan semangat kebersamaan, di mana semua ikut merasa memiliki dan dilibatkan. Ini pembangunan yang tidak diskriminatif, tidak eksklusif, dan berkeadilan,” katanya.
Dalam konteks dinamika sosial dan politik nasional, Agustiar mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi polarisasi yang dapat mengganggu kerukunan masyarakat. Ia mengapresiasi Barito Timur sebagai daerah yang selama ini dikenal harmonis dan solid dalam kehidupan antarsuku maupun antaragama.
“Kita tidak ingin ada gesekan, apalagi menjelang tahun politik. Mari jaga kampung halaman ini dengan hati bersih, pikiran terbuka, dan semangat gotong royong,” pesan Gubernur.
Menurutnya, persatuan dan stabilitas sosial merupakan prasyarat penting untuk membawa Kalteng berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional dan visi Indonesia Emas 2045.
Menutup sambutannya, Gubernur mengajak warga Barito Timur mempertahankan semangat “manggatang utus” — saling membantu dan menguatkan — sebagai karakter masyarakat Kalteng sejak dulu.
“Dengan semangat Huma Betang, kita bisa kuat menghadapi tantangan apa pun. Mari terus jaga persatuan ini, demi Kalimantan Tengah yang Berkah, Maju, dan Bermartabat,” pungkasnya.
Editor: Andrian