INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Tim SAR gabungan dikerahkan untuk mencari Punasah (35), warga yang diduga tenggelam di Sungai Arut, Desa Tanjung Putri, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (17/8/2026) sekitar pukul 20.30 WIB. Saat itu, korban diketahui sedang beraktivitas di sekitar pinggir Sungai Arut sebelum kemudian diduga tenggelam dan hilang di aliran sungai.
Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung berupaya melakukan pencarian secara mandiri. Namun, pencarian di sekitar lokasi belum membuahkan hasil hingga Selasa (18/8/2026).
Karena korban belum ditemukan, kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada Pos SAR Pangkalan Bun. Tim SAR selanjutnya bergerak ke lokasi untuk melakukan operasi pencarian dan pertolongan.
Kepala Kantor SAR Palangka Raya AA Ketut Alit Supartana membenarkan adanya laporan tersebut. Menurutnya, setelah menerima informasi dari Koordinator Pos SAR Pangkalan Bun, pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan unsur terkait.
“Setelah menerima laporan dari Koordinator Pos SAR Pangkalan Bun, kami langsung berkoordinasi dengan Polres Kotawaringin Barat dan segera memberangkatkan Tim Rescue ke titik lokasi kejadian,” ujar Alit.
Tim SAR gabungan kemudian melakukan penyisiran di sekitar lokasi yang diduga menjadi titik korban tenggelam. Pencarian dilakukan untuk menemukan korban yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Operasi pencarian melibatkan Tim Rescue Pos SAR Pangkalan Bun, Polres Kotawaringin Barat, Polsek Arut Selatan, Koramil 1014-01/Arut Selatan, masyarakat sekitar serta keluarga korban.
Tim gabungan terus memperluas dan memaksimalkan penyisiran di sekitar aliran Sungai Arut. Selain menyisir permukaan sungai, petugas juga berkoordinasi dengan warga yang memahami kondisi sekitar lokasi kejadian.
Hingga berita ini diturunkan, Punasah belum ditemukan. Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian dengan harapan korban segera ditemukan dan dapat diserahkan kepada pihak keluarga.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan kembali dihidupkan melalui sebuah buku. Bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, buku “Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan” diluncurkan di Palangka Raya, Senin (17/8/2026).
Buku tersebut ditulis oleh tiga penulis, yakni Komandan Lanud Iskandar Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto, M.Han., Kainfolahta Lanud Iskandar Letda Lek Ferry Ansyari, S.Kom., M.Kom., serta Edithia F. Widiarti. Karya ini mengangkat kembali kisah heroik 13 penerjun AURI yang menjalankan operasi penerjunan pertama di Indonesia pada 17 Oktober 1947 di Kalimantan.
Tak hanya mengisahkan operasi penerjunan, buku tersebut juga menelusuri perjalanan Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut dan para pemuda Dayak dalam mempertahankan kemerdekaan hingga ikut meletakkan fondasi pembangunan Kalimantan Tengah.
Penulis buku “Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan”: Kainfolahta Lanud Iskandar Letda Lek Ferry Ansyari, S.Kom., M.Kom. (kiri), Komandan Lanud Iskandar Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto, M.Han. (tengah), serta Edithia F. Widiarti (kanan). (Ist)
Peluncuran buku menjadi momentum penting karena sejarah 13 penerjun tersebut selama puluhan tahun belum banyak diketahui generasi muda. Padahal, operasi itu merupakan salah satu tonggak penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan.
Berawal dari Makam yang Terendam Banjir
Nugroho Tri Widyanto mengatakan, gagasan menyusun buku tersebut berawal dari sebuah peristiwa pada Juli 2025. Saat itu, putri salah satu penerjun, LMU II Cornelius Willems, datang ke Pangkalan Bun.
Nama Cornelius Willems sebelumnya telah diabadikan sebagai salah satu nama heritage di Lanud Iskandar. Dalam pertemuan tersebut, keluarga menyampaikan kondisi makam Cornelius Willems di Kapuas yang kerap terendam ketika banjir.
Informasi tersebut kemudian ditelusuri lebih jauh. Penelusuran arsip dan dokumen memperkuat bahwa Cornelius Willems merupakan bagian dari 13 penerjun AURI yang menjalankan operasi bersejarah di Kalimantan pada 1947.
Berdasarkan piagam penghargaan yang menyebutkan bahwa Cornelius Willems layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, koordinasi dilakukan dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Makamnya kemudian dibuka kembali pada 8 November 2025. Sehari setelahnya jenazah disemayamkan dan pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Cornelius Willems dimakamkan kembali di TMP Sanaman Lampang melalui upacara militer.
Dari proses tersebut muncul pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya 13 pemuda yang berani terjun dari langit menuju Kalimantan di tengah ancaman Belanda?
“Ternyata belum banyak generasi muda yang mengetahui sejarah panjang dari 13 penerjun itu. Padahal penerjunan tersebut merupakan penerjunan pertama di Indonesia untuk melawan agresi militer Belanda di Kalimantan. Dari 13 penerjun itu, 11 orang adalah putra Dayak,” ujar Nugroho.
Saat Laut Diblokade, Langit Jadi Jalan Perjuangan
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Belanda berupaya kembali menguasai wilayah Indonesia. Di Kalimantan, perjuangan rakyat menghadapi kendala besar karena jalur laut diblokade sehingga pengiriman pasukan dari Jawa sulit dilakukan.
Gubernur pertama Kalimantan, Mohammad Noor, kemudian meminta bantuan Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Komodor Udara Suryadi Suryadarma. Pilihan akhirnya jatuh pada jalur udara.
Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut dipercaya menyiapkan operasi tersebut. Sebanyak 72 pemuda dipersiapkan dan 60 di antaranya merupakan putra-putra Dayak. Mereka dikirim ke Maguwo, Yogyakarta, untuk menjalani latihan penerjunan menggunakan parasut peninggalan Jepang.
Setelah melalui latihan, 14 orang dipilih untuk menjalankan misi. Namun, satu orang mengundurkan diri menjelang keberangkatan sehingga tersisa 13 penerjun.
Pada 17 Oktober 1947, mereka berangkat menggunakan pesawat Dakota RI-002 dari Yogyakarta menuju kawasan Bukit Sepan Biha, Kalimantan. Operasi tersebut kemudian dikenang sebagai tonggak sejarah penerjunan pertama di Indonesia dan menjadi bagian dari sejarah lahirnya pasukan penerjun TNI Angkatan Udara.
Misi mereka bukan sekadar melompat dari pesawat. Para pejuang membawa tugas strategis, yakni membangun komunikasi dengan mendirikan antena radio untuk mendukung operasi udara berikutnya.
Merah Putih Berkibar di Langit Kalimantan
Di tengah operasi tersebut tersimpan kisah heroik Johannes Bitak. Saat berada di pesawat, ia mengikat kain merah pada sabuk dan warna putih pada ujung sepatunya.
Ketika melompat dari pesawat, dua warna tersebut berkibar di udara. Setelah mendarat, Johannes mencari ranting kayu dan menancapkan Merah Putih di tanah Kalimantan.
Tindakan sederhana itu menjadi simbol kuat bahwa perjuangan mereka bukan sekadar mempertahankan wilayah, tetapi menegaskan satu keyakinan: Kalimantan adalah bagian dari Indonesia.
Gugurnya Iskandar, Nama yang Kini Abadi
Setelah mendarat, para penerjun melakukan konsolidasi di Desa Mojang. Namun, keberadaan mereka diketahui Belanda setelah dilaporkan oleh kepala desa setempat.
Pasukan Belanda kemudian melakukan penggerebekan. Letnan Udara Satu Iskandar yang mengetahui serangan tersebut memerintahkan anak buahnya menyelamatkan diri.
Iskandar memilih tetap bertahan untuk menghadang pasukan Belanda agar anak buahnya memiliki kesempatan melarikan diri. Ia gugur dalam pertempuran tersebut.
Pengorbanannya kemudian diabadikan menjadi nama Lanud Iskandar di Pangkalan Bun.
“Beliau memerintahkan semua anak buahnya untuk kabur, lari, dan beliau sendiri yang menghadang Belanda. Sehingga beliau gugur pertama setelah penerjunan. Nama beliau kemudian diabadikan menjadi Lanud Iskandar saat ini di Pangkalan Bun,” ungkap Nugroho.
Sebagian penerjun lainnya juga gugur dalam pertempuran. Sementara mereka yang selamat ditangkap dan dipenjarakan di Nusakambangan.
Ironisnya, dari balik jeruji penjara itulah sebagian kisah perjuangan mereka justru terselamatkan. Para penerjun menulis pengalaman yang mereka alami, kemudian catatan tersebut diwariskan kepada keluarga dan menjadi sumber penting dalam penyusunan buku.
Menyusun Sejarah dari Catatan Para Pelaku
Ferry Ansyari mengatakan, buku tersebut disusun dengan mengutamakan sumber primer. Tim penulis menelusuri catatan para penerjun, arsip keluarga, dokumen Angkatan Udara, foto hingga berbagai literatur lama.
Penelitian bahkan telah dilakukan sejak 2018. Sejumlah dokumen yang sebelumnya hanya ditemukan dalam bentuk salinan kembali ditelusuri hingga sumber aslinya.
“Kami kumpulkan dari buku-buku catatan para penerjun. Saat mereka berada di penjara, mereka menulis perjalanan yang mereka alami. Catatan itu kemudian kami compile menjadi satu, sehingga menjadi sebuah cerita yang mungkin selama ini belum pernah disusun selengkap ini,” jelas Ferry.
Menurutnya, buku tersebut tidak dibangun berdasarkan cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, tetapi disusun dengan mencocokkan dokumen dan urutan waktu peristiwa.
“Buku ini sebuah dokumen yang berbicara. Kami tidak membuat konsep berdasarkan cerita orang, tetapi menyusun dokumen sesuai timeline-nya. Jadi fakta yang terjadi kami susun berdasarkan dokumen-dokumen yang ada,” katanya.
Keluarga Tjilik Riwut Ikut Membuka Arsip Lama
Penyusunan buku juga mempertemukan keluarga para pejuang dengan Angkatan Udara. Edithia F. Widiarti, cucu Pahlawan Nasional Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut, mengatakan kolaborasi tersebut membantu menyatukan berbagai potongan sejarah.
Keluarga memiliki dokumen, foto dan cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara Angkatan Udara memiliki arsip serta dokumentasi lainnya.
Ketika berbagai sumber tersebut dipertemukan, sejumlah fakta baru mulai terungkap.
“Kami cukup senang karena bisa menjalin hubungan baik lagi antara keluarga dengan Angkatan Udara. Bagaimanapun juga, Pak Marsma TNI (Hor) Tjilik Riwut merupakan bagian dari keluarga besar Angkatan Udara. Kami merasa kembali dianggap sebagai keluarga,” ujar Edithia.
Penelusuran juga membawa tim pada berbagai literatur lama, termasuk buku Kalimantan Memanggil yang diterbitkan pada 1958. Daftar pustaka dalam buku tersebut kemudian digunakan untuk mencari sumber sejarah lainnya.
“Banyak informasi yang sebelumnya tidak saya ketahui. Setelah melakukan pertukaran data, foto dan dokumen, kami menemukan cerita-cerita baru yang kemudian bisa kami ungkap dalam buku ini,” tuturnya.
“Kami Datang untuk Kalimantan”
Pemilihan judul “Kami Datang untuk Kalimantan” memiliki makna khusus. Frasa tersebut menggambarkan semangat para pemuda Kalimantan yang meninggalkan tanah kelahirannya, menjalani latihan di Jawa, kemudian kembali ke Kalimantan untuk mempertahankan tanah air.
Ide awal buku sempat menggunakan nama Tjilik Riwut. Namun setelah ditelusuri, para penulis menemukan keterkaitan kuat dengan buku Kalimantan Memanggil karya Tjilik Riwut.
“Kami itu adalah pemuda-pemuda Dayak yang setelah berjuang di Pulau Jawa datang kembali ke Pulau Kalimantan untuk mempertahankan Kalimantan,” kata Nugroho.
Rangkaian perjuangan tersebut berawal dari ekspedisi pada 1946 yang menjadi salah satu cikal bakal perjuangan bersenjata di Kalimantan. Tjilik Riwut membentuk kelompok MN 1001 atau Muhammad Nur 1001, sementara Hasan Basri membentuk ALRI Divisi IV.
Dari rangkaian perjuangan tersebut kemudian lahir operasi penerjunan pada 1947 yang menjadi salah satu episode penting dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kado Kemerdekaan untuk Kalimantan
Buku tersebut diserahkan kepada Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran setelah upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Aula Jayang Tingang, Senin (17/8/2026).
Penyerahan dilakukan Komandan Lanud Iskandar Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto, M.Han., dan disaksikan Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo, Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, Kapolda Kalteng Irjen Iwan Kurniawan serta Kajati Kalteng Hendrizal Husin.
Momentum peluncuran tersebut juga bertepatan dengan hari ulang tahun Gubernur Kalteng. Karena itu, buku tersebut dipersembahkan sebagai kado bagi Gubernur dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sekaligus penghormatan kepada Tjilik Riwut dan para penerjun yang mempertaruhkan nyawa demi Indonesia.
Cetakan pertama buku ini berjumlah 700 eksemplar. Sekitar 660 eksemplar direncanakan disalurkan melalui Dinas Pendidikan untuk didistribusikan kepada sekolah, khususnya jenjang SMA dan perguruan tinggi. Sisanya diperuntukkan bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Lanud Iskandar juga berencana mencetak lebih banyak eksemplar agar kisah perjuangan tersebut dapat dibaca masyarakat lebih luas.
Bukan Akhir, Melainkan Awal Membuka Sejarah
Nugroho menegaskan, buku tersebut bukan akhir dari penelitian. Sebaliknya, buku ini menjadi pintu masuk untuk menggali lebih banyak kisah perjuangan yang masih tersimpan dalam arsip keluarga maupun dokumen sejarah.
“Buku ini tahap awal. Kami berencana membuatnya jilid per jilid. Setelah ini akan kami kembangkan lagi dengan judul lain, tetapi kisahnya bersambung. Kalau ada fakta sejarah baru yang ditemukan, sangat mungkin kami keluarkan buku lainnya,” ujarnya.
Di Heritage Lanud Iskandar, sejumlah peninggalan para pejuang masih tersimpan, mulai dari dokumen tulisan tangan, pakaian, parasut hingga berbagai benda bersejarah lainnya. Tempat tersebut dapat dikunjungi masyarakat pada hari kerja.
Kehadiran buku ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Di balik kemerdekaan terdapat pengorbanan orang-orang yang bahkan tidak sempat menyaksikan Indonesia tumbuh seperti sekarang.
Ada yang gugur di medan pertempuran. Ada yang menjadi tawanan. Ada pula yang menulis kisah perjuangannya dari balik jeruji agar generasi setelahnya tidak kehilangan jejak sejarah.
Kini, puluhan tahun kemudian, kisah tersebut kembali menemukan jalannya melalui buku “Perjuangan Pemuda Dayak AURI: Kami Datang untuk Kalimantan.”
Bukan sekadar buku tentang masa lalu, tetapi sebuah upaya menjaga ingatan tentang keberanian 13 pemuda yang pernah melompat dari langit menuju Kalimantan demi satu keyakinan: mempertahankan Indonesia.
“Semoga buku ini menjadi rujukan sejarah bagi generasi muda, bahwa semangat nasionalisme harus tetap kita pupuk demi keutuhan negara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Nugroho.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, terus meluas. Hingga Agustus 2026, tercatat 189 kejadian Karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 859,490 hektare.
Melihat kondisi tersebut, Bupati Kobar Hj Nurhidayah memutuskan memperpanjang status tanggap darurat bencana Karhutla. Perpanjangan status berlaku mulai 21 Agustus hingga 4 September 2026 untuk memperkuat penanganan di tengah ancaman kebakaran yang masih tinggi.
Keputusan tersebut disampaikan Nurhidayah saat meninjau Posko Induk Tanggap Darurat Bencana Karhutla di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Selasa (18/8/2026). Dalam peninjauan itu, Bupati didampingi Wakil Bupati Suyanto dan Sekda Kobar Rody Iskandar.
Nurhidayah mengatakan tingginya kejadian Karhutla menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Apalagi, berdasarkan data yang ada, Kobar menempati peringkat kedua di Kalimantan Tengah dalam hal luasan lahan yang terbakar.
“Untuk wilayah Kalimantan Tengah ini, Kobar menduduki peringkat kedua untuk luasan Karhutla. Hal ini menjadi perhatian seluruh tim Satgas agar lebih waspada dan cepat merespons laporan kejadian,” kata Nurhidayah.
Menurutnya, cuaca panas ekstrem yang masih berlangsung menjadi salah satu faktor yang membuat potensi kebakaran tetap tinggi. Karena itu, seluruh personel Satgas diminta meningkatkan kewaspadaan dan mempercepat respons setiap kali menerima laporan kebakaran.
Perpanjangan status tanggap darurat juga telah disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Tengah untuk proses pengesahan. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan waktu tambahan bagi seluruh unsur terkait untuk memaksimalkan penanganan Karhutla di lapangan.
Saat mengecek Posko Induk, Nurhidayah memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana, serta dapur umum. Ia meminta posko diaktifkan selama 24 jam dengan sistem pergantian petugas agar pelayanan dan koordinasi penanganan Karhutla tidak terputus.
“Tim kesehatan dan dapur umum harus siap selama 24 jam. Untuk tim kesehatan agar menyiapkan masker dan oksigen,” ujarnya.
Nurhidayah mengakui penanganan Karhutla masih terkendala keterbatasan sumber air dan personel. Banyaknya kejadian membuat kekuatan Satgas harus dibagi untuk menangani kebakaran di sejumlah lokasi.
Di tengah kondisi tersebut, keberadaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa dinilai sangat membantu. Nurhidayah meminta seluruh Satgas bekerja satu komando, memperkuat koordinasi, serta terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah.
“Jangan membakar lahan maupun sampah. Saat ini akibat panas ekstrem, bukan hanya lahan yang terbakar, pemukiman pun bisa terbakar apabila masyarakat tidak berhati-hati,” tegasnya.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Puluhan mobil dinas di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) ternyata masih memiliki tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Tak hanya menunggak satu tahun, ada kendaraan yang belum membayar pajak hingga dua tahun, bahkan beberapa di antaranya sudah berstatus pelat mati.
Temuan tersebut menjadi perhatian Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Kalimantan Tengah wilayah Kobar. Persoalan ini menjadi salah satu pekerjaan yang terus didorong untuk dituntaskan agar kendaraan milik pemerintah tetap memenuhi kewajiban administrasi dan pajaknya.
Kepala Bapenda Provinsi Kalimantan Tengah wilayah Kobar, Muhammad Ali Sofyan Nur, mengatakan tunggakan kendaraan dinas ditemukan dengan kondisi yang beragam. Ada yang baru menunggak satu tahun, dua tahun, hingga kendaraan yang pelat nomornya sudah tidak aktif.
“Yang nunggak ada yang satu tahun, ada yang dua tahun, ada juga yang plat mati,” kata Ali Sofyan Nur di Pangkalan Bun, Selasa (18/8/2026).
Menurut Ali, Bapenda telah beberapa kali memberikan imbauan dan sosialisasi kepada pihak terkait. Pendekatan langsung juga dilakukan untuk mendorong kendaraan dinas yang masih menunggak agar segera membayar pajak.
Tunggakan tersebut tidak hanya terjadi pada kendaraan dinas milik pemerintah daerah. Bapenda juga menemukan kendaraan dinas desa yang masih belum membayar pajak. Kondisi itu turut menjadi perhatian karena kendaraan pemerintah semestinya menjadi contoh dalam memenuhi kewajiban sebagai wajib pajak.
Sementara itu, realisasi penerimaan PKB di Kobar hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 62 persen dari target. Dengan capaian tersebut, masih ada sekitar 40 persen target yang harus dikejar Bapenda hingga penghujung tahun.
“Untuk tahun 2026, PKB agak sedikit melandai. Pencapaian target sampai bulan Agustus 2026 khususnya di Kobar hampir 62 persen, masih sekitar 40 persen lagi yang harus kita cari,” ujarnya.
Untuk kendaraan baru, kondisi penerimaan justru lebih baik. Hingga Agustus 2026, pembayaran pajak kendaraan baru telah mencapai hampir 75 persen. Sebelumnya, pemerintah juga telah memberikan program pemutihan pajak yang kini telah selesai.
Saat ini, denda pajak kendaraan ditetapkan sebesar satu persen. Bapenda juga memberikan stimulus bagi masyarakat yang membayar pajak sebelum jatuh tempo melalui potongan enam persen, empat persen dan dua persen.
Di tengah efisiensi anggaran, Bapenda belum melakukan razia gabungan. Sebagai gantinya, pelayanan door to door terus digencarkan dengan mendatangi kantor dinas maupun rumah masyarakat. Fokus pelayanan saat ini diarahkan pada kendaraan roda empat, termasuk puluhan mobil dinas yang masih memiliki tunggakan pajak.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). PT Astra Agro Lestari Tbk melalui anak usahanya PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (GSIP), PT Agro Menara Rachmat (AMR), PT Surya Indah Nusantara Pagi (SINP), dan PT Persada Bina Nusantara Abadi (PBNA) turut memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui keikutsertaan perusahaan dalam Apel Tanggap Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memastikan kesiapan personel sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana.
Apel tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, perusahaan hingga elemen masyarakat. Kolaborasi dinilai penting karena penanganan bencana, khususnya karhutla, membutuhkan respons cepat dan kerja sama yang terintegrasi.
Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah mengatakan apel tersebut menjadi gambaran kesiapsiagaan seluruh unsur di daerah dalam menghadapi ancaman bencana yang dipengaruhi perubahan iklim.
“Kegiatan ini menunjukkan kesiapsiagaan setiap unsur di Kabupaten Kotawaringin Barat dalam menghadapi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim. Dengan kerja sama yang terjalin baik dari unsur pemerintah, penegak hukum, perusahaan dan masyarakat, menjadikan kita lebih siap dalam menghadapi bencana akibat perubahan iklim,” ujar Nurhidayah.
Apel Tanggap Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2026. (Ist)
Menurutnya, perubahan iklim dapat meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi. Curah hujan tinggi dapat memicu banjir dan tanah longsor, sedangkan kondisi kering dan minim hujan dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Dari unsur perusahaan, Perwakilan PT GSIP-AMR Sulthon Saladin menegaskan pentingnya sinergi antarpihak dalam membangun kesiapan menghadapi bencana. Menurutnya, perusahaan perkebunan menjadi bagian dari upaya bersama untuk menciptakan Kobar yang lebih tangguh menghadapi bencana.
“Sinergitas ini menjadi harmonisasi setiap unsur dalam menanggulangi bencana yang ada. Kami dari unsur perusahaan perkebunan, yaitu PT GSIP-AMR dan PT SINP-PBNA yang ada di Kotawaringin Barat, telah menjadi bagian dalam kolaborasi menuju Kotawaringin Barat tangguh bencana,” katanya.
Sulthon menambahkan, perusahaan berkomitmen untuk terus terlibat dalam upaya penanggulangan bencana di wilayah Kobar. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perusahaan terhadap pembangunan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Sementara itu, Perwakilan PT SINP-PBNA Purwanto menyebut perusahaan telah menyiapkan personel terlatih yang tergabung dalam Tim Kesiapsiagaan Tanggap Bencana (TKTD). Personel tersebut disiapkan untuk mendukung upaya penanggulangan ketika terjadi bencana.
“Kami juga memiliki personel terlatih yang bisa diandalkan dalam penanggulangan bencana. Personel ini tergabung dalam Tim Kesiapsiagaan Tanggap Bencana (TKTD) perusahaan,” ujar Purwanto.
Dengan adanya personel dan kesiapan tersebut, PT SINP-PBNA memastikan siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah maupun unsur lainnya ketika terjadi bencana di wilayah Kotawaringin Barat.
Apel tanggap darurat ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi penguatan koordinasi, komunikasi dan kesiapan di lapangan. Dengan sinergi pemerintah, aparat, perusahaan dan masyarakat, Kobar diharapkan semakin siap menghadapi ancaman karhutla maupun bencana hidrometeorologi lainnya.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Tengah 2026 yang akan berlangsung di Kotawaringin Barat (Kobar) pada Oktober mendatang, KONI Kobar mulai mematangkan berbagai persiapan. Pemantauan dilakukan tidak hanya terhadap sejumlah venue pertandingan, tetapi juga kondisi atlet yang akan menjadi tumpuan Kobar.
Ketua KONI Kotawaringin Barat, Hj Fatmawati, mengatakan kesiapan menghadapi Porprov harus dilakukan secara menyeluruh. Sebagai tuan rumah, Kobar tidak hanya dituntut mampu menyiapkan fasilitas pertandingan, tetapi juga harus memastikan atlet siap bertanding.
“Pantauan ini bukan hanya sekadar sebagai tuan rumah, tetapi atletnya juga harus siap,” kata Fatmawati, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, waktu pelaksanaan Porprov yang tinggal beberapa bulan membuat seluruh cabang olahraga (cabor) harus semakin serius menjaga persiapan. Program latihan yang sudah berjalan perlu dipertahankan dengan tetap memperhatikan kondisi fisik masing-masing atlet.
Fatmawati juga meminta seluruh cabor memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan atlet dan pelatih. Kondisi tubuh yang prima dinilai menjadi salah satu modal penting agar persiapan menuju kompetisi tidak terganggu.
Imbauan tersebut disampaikan di tengah kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin pekat di sejumlah wilayah Kobar. Kondisi udara tersebut menjadi perhatian karena atlet dan pelatih tetap harus menjalani aktivitas latihan menjelang kompetisi.
“Kita berharap kepada semua cabor agar atlet-atletnya dijaga kesehatannya karena tinggal beberapa bulan lagi Porprov digelar,” ujar Fatmawati.
Ia menegaskan kesehatan atlet dan pelatih harus menjadi perhatian bersama. Intensitas latihan yang meningkat menjelang pertandingan perlu diimbangi dengan upaya menjaga kebugaran serta mengantisipasi dampak kondisi udara akibat asap karhutla.
Di sisi lain, KONI Kobar terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah venue untuk memastikan fasilitas pertandingan siap digunakan. Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan Kobar agar penyelenggaraan Porprov dapat berjalan baik ketika seluruh kontingen datang pada Oktober nanti.
Dengan waktu persiapan yang semakin terbatas, KONI Kobar berharap seluruh cabor bergerak bersama menjaga kesiapan venue, atlet dan pelatih. Kobar kini menghadapi dua pekerjaan sekaligus: sukses sebagai tuan rumah dan menunjukkan prestasi maksimal di Porprov 2026.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) semakin serius. Hingga 18 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, BPBD Kobar mencatat 189 kejadian karhutla dengan total luasan mencapai 859,49 hektare. Di tengah kondisi tersebut, sebanyak 461 hotspot juga terpantau di wilayah Kobar.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel S.ST., M.T. menyebut peningkatan angka karhutla dan hotspot menjadi perhatian serius. Data tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran belum mereda, terutama memasuki periode Juli hingga Agustus yang mengalami lonjakan cukup tajam.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, Arut Selatan menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 226 titik. Berikutnya Kecamatan Kumai dengan 124 titik, Arut Utara 65 titik, Kotawaringin Lama 34 titik dan Pangkalan Banteng 12 titik. Sementara Pangkalan Lada tercatat nihil hotspot.
Lonjakan paling tajam terjadi pada Agustus. Jika pada Juli tercatat 78 hotspot, hingga 18 Agustus jumlahnya sudah mencapai 334 titik panas. Peningkatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa potensi kebakaran masih tinggi di sejumlah kawasan.
Dari sisi kejadian, Arut Selatan juga mendominasi dengan 98 kejadian karhutla. Kecamatan Kumai mencatat 63 kejadian, Kotawaringin Lama 8 kejadian, Pangkalan Banteng 10 kejadian, Pangkalan Lada 6 kejadian dan Arut Utara 4 kejadian.
Tren peningkatan juga terlihat dari catatan bulanan. Pada Juli terdapat 62 kejadian, sedangkan dalam 18 hari pertama Agustus sudah mencapai 79 kejadian. Kondisi tersebut menunjukkan intensitas karhutla bergerak semakin cepat dan membutuhkan respons yang tidak kalah cepat.
Plt Kabid Kedaruratan, Logistik dan Bencana BPBD Kobar Adnan Santana mengatakan, ratusan kejadian tersebut telah memberikan dampak besar terhadap kawasan yang terbakar. Berdasarkan rekap BPBD, total luasan karhutla hingga 18 Agustus mencapai 859,49 hektare.
Arut Selatan menjadi wilayah dengan luasan terbakar paling besar, yakni 650,95 hektare. Besarnya angka tersebut menjadikan Arut Selatan sebagai kawasan yang paling terdampak dalam rekapitulasi karhutla Kobar sepanjang 2026.
Kecamatan Kumai menyusul dengan luasan terbakar sekitar 110,23 hektare. Kemudian Kotawaringin Lama sekitar 32,1 hektare, Pangkalan Lada sekitar 31,71 hektare, Arut Utara 30,5 hektare dan Pangkalan Banteng sekitar 4 hektare.
Adnan mengatakan peningkatan karhutla tidak boleh hanya dilihat dari jumlah kejadian, tetapi juga dari potensi perluasan api. Karena itu, pemantauan hotspot dan respons terhadap laporan kebakaran harus dilakukan secara cepat untuk mencegah api menjalar ke area yang lebih luas.
BPBD Kobar mengajak masyarakat ikut menjadi mata dan telinga di lapangan dengan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar yang berpotensi memicu kebakaran tidak terkendali.
Dengan 461 hotspot, 189 kejadian karhutla dan 859,49 hektare lahan terbakar, situasi Kobar menunjukkan ancaman yang belum bisa dianggap ringan. Kolaborasi pemerintah, petugas, aparat dan masyarakat menjadi kunci untuk menghentikan laju karhutla sebelum dampaknya semakin besar.
INTIMNEWS. COM, PANGKALAN BUN – Menghadapi ancaman El Nino dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Bupati Kotawaringin Barat Hj Nurhidayah mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar melalui Sholat Istisqa. Sholat meminta hujan itu digelar di halaman Kantor Bupati Kotawaringin Barat, Selasa (18/8/2026).
Sholat Istisqa tersebut diikuti para ulama, tokoh agama, pimpinan daerah serta masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat. Doa bersama ini menjadi salah satu ikhtiar spiritual di tengah kondisi cuaca kering yang meningkatkan kerawanan karhutla di wilayah Kobar.
Dalam sambutannya, Hj Nurhidayah mengatakan hujan merupakan rahmat sekaligus kebutuhan penting bagi kehidupan. Karena itu, masyarakat diajak bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi daerah.
“Melalui Sholat Istisqa ini, marilah kita bersama-sama bermunajat, memohon ampun atas segala kekhilafan dan memohon pertolongan serta rahmat Allah SWT,” kata Nurhidayah.
Menurutnya, kondisi kemarau dan ancaman El Nino membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat. Selain berdoa, warga diminta ikut menjaga lingkungan dan mencegah berbagai aktivitas yang berpotensi memicu terjadinya karhutla.
Nurhidayah juga mengingatkan pentingnya menghemat penggunaan air. Keterbatasan air di tengah kondisi kering perlu disikapi dengan bijak agar kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga lingkungan, menghemat penggunaan air, serta meningkatkan kepedulian dan gotong royong dalam menghadapi kondisi yang kita alami,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan dampak musim kering dan ancaman karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran masyarakat sangat diperlukan, terutama dalam mencegah munculnya titik api dan menjaga lingkungan sekitar.
Sholat Istisqa, kata Nurhidayah, menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa menghadapi kondisi sulit membutuhkan ikhtiar lahir dan batin secara bersama-sama.
Nurhidayah berharap Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat, memadamkan potensi kekeringan serta memberikan keselamatan dan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat.
“Semoga Allah SWT mengabulkan doa dan permohonan kita, menurunkan hujan yang membawa manfaat, serta memberikan keselamatan, kesehatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat,” tuturnya.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Di saat Merah Putih berkibar memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) justru membara di sejumlah wilayah Kotawaringin Barat (Kobar), Senin (17/8/2026). Petugas pun harus berjibaku di lapangan untuk mengendalikan api.
Bukan hanya satu titik, karhutla dilaporkan terjadi secara bersamaan di delapan lokasi. Kondisi ini membuat petugas harus bergerak cepat dari satu titik ke titik lainnya untuk melakukan penanganan dan mencegah api meluas.
Delapan lokasi tersebut yakni Km 13, Sungai Baru, Pondok Pesantren Darul Ulum, Sungai Tendang Kecamatan Kumai, Kumpai Batu Bawah Kecamatan Arut Selatan, Tanjung Terantang, Kumpai Batu Atas Kecamatan Arut Selatan, serta Desa Kubu Kecamatan Kumai.
Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar Adnan Santana mengatakan, hingga Senin petugas masih berada di lapangan untuk menangani kebakaran di sejumlah lokasi tersebut.
“Luasan lahan masih belum kita data, saat ini petugas masih di lapangan,” kata Adnan, Senin (17/8/2026).
Menurut Adnan, pendataan luasan lahan belum dapat dilakukan karena petugas masih berkonsentrasi pada upaya pemadaman. Prioritas saat ini adalah mengendalikan api agar tidak menjalar ke kawasan lain.
Sebaran titik karhutla yang mencapai delapan lokasi menjadi tantangan tersendiri. Petugas harus memastikan setiap titik mendapat penanganan sekaligus melakukan pemantauan terhadap kemungkinan munculnya kobaran baru.
Di tengah situasi tersebut, suasana kemerdekaan tetap terasa di lapangan. Merah Putih dikibarkan, sementara para petugas tetap mengenakan perlengkapan dan menjalankan tugas memadamkan api.
Peringatan 17 Agustus tahun ini pun menjadi gambaran tentang bentuk perjuangan yang berbeda. Ketika masyarakat merayakan kemerdekaan, para petugas memilih tetap berada di garis depan untuk menghadapi ancaman karhutla.
Adnan menegaskan petugas masih melakukan penanganan di lokasi-lokasi yang dilaporkan terbakar. Pendataan mengenai luasan lahan akan dilakukan setelah kondisi di lapangan memungkinkan.
Karhutla yang membara di delapan titik pada Hari Kemerdekaan menjadi alarm bahwa ancaman api di Kobar masih perlu diwaspadai. Di bawah kibaran Merah Putih, perjuangan petugas belum berakhir, api harus dijinakkan sebelum berubah menjadi bencana yang lebih besar.
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Kepedulian terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) datang dari berbagai pihak. Salah satunya KiM Property yang memberikan bantuan kemanusiaan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) Kobar.
Bantuan tersebut diserahkan sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas kemanusiaan PMI, terutama dalam membantu para petugas dan relawan yang berada di lapangan menangani karhutla.
Wakil Manager KiM Property, Wardiman, mengatakan dukungan tersebut murni merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan perusahaan terhadap kondisi yang terjadi akibat karhutla.
“Kegiatan di PMI ini murni support kemanusiaan KiM Property. Kami melihat PMI menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan bantuan medis kepada teman-teman yang berada di lapangan saat memadamkan api karhutla,” kata Wardiman, Senin (17/8/2026).
Menurut dia, para petugas dan relawan yang berjibaku memadamkan karhutla membutuhkan dukungan, termasuk dalam hal pelayanan kesehatan. PMI dinilai memiliki peran penting untuk memberikan pertolongan ketika terjadi kondisi darurat di lapangan.
Karena itu, KiM Property berinisiatif menyisihkan sebagian rezeki perusahaan untuk membantu PMI dalam menjalankan tugas kemanusiaannya. Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang kegiatan PMI selama penanganan karhutla.
“Kami sedikit menyisihkan rezeki untuk membantu PMI dalam kegiatannya. Semoga bantuan ini bisa bermanfaat dan dapat mendukung teman-teman PMI dalam menjalankan tugas kemanusiaan,” ujar Wardiman.
Ia menegaskan, dukungan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan perusahaan, tetapi merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap masyarakat dan para petugas yang tengah berjuang menghadapi karhutla.
Wardiman berharap bantuan dari KiM Property dapat memberikan manfaat bagi PMI, khususnya dalam mendukung pelayanan medis kepada para relawan maupun petugas yang bekerja di lokasi karhutla.
Dukungan dunia usaha, menurut dia, menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya kemanusiaan di tengah kondisi karhutla. Kolaborasi antara perusahaan, PMI, pemerintah, relawan, dan masyarakat diharapkan dapat membantu penanganan karhutla sekaligus melindungi mereka yang berada di garis depan.
“Semoga apa yang kami berikan ini benar-benar bermanfaat dan bisa membantu PMI dalam menjalankan tugasnya di lapangan,” kata Wardiman.