Pagi di Desa Sungai Hijau, Kecamatan Pangkalan Banteng, tidak lagi dibangunkan oleh kokok ayam semata. Dari sela kabut yang menggantung di atas kebun sawit, dentuman mesin grader dan excavator meraung memecah kesunyian. Tanah merah yang selama bertahun-tahun hanya menjadi kubangan kini digerus perlahan oleh roda-roda besi. Di antara percikan lumpur dan aroma solar, sepatu lars prajurit TNI berjejak berdampingan dengan kaki telanjang petani desa.
Mereka tidak sedang menuju medan tempur. Musuh yang mereka hadapi kali ini bernama keterisolasian.
Melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 Tahun Anggaran 2026, Kodim 1014/Pangkalanbun turun langsung mengubah wajah pelosok Kotawaringin Barat.
Tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa” bukan lagi sekadar slogan seremonial di spanduk upacara. Ia hidup di lumpur jalan, di tangan yang melepuh memegang sekop, dan di wajah-wajah petani yang mulai berani memimpikan masa depan.

Di tengah hiruk-pikuk alat berat yang meraung di badan jalan, Letkol Inf Makin, berdiri menatap hamparan proyek dengan wajah serius. Komandan Satgas TMMD itu tampak lebih sering berkubang lumpur ketimbang duduk nyaman di balik meja komando. Ia berjalan dari satu titik pengerjaan ke titik lain, memastikan jalan yang dibangun benar-benar menjadi urat nadi baru bagi desa.
“Kalau jalan ini hidup, ekonomi warga ikut hidup,” ujar seorang petani sambil menyeka peluh di bawah terik matahari.
Ucapan itu bukan tanpa alasan. Sasaran utama TMMD kali ini adalah peningkatan jalan sepanjang enam kilometer dengan lebar enam meter yang menghubungkan Desa Sungai Hijau menuju Desa Arga Mulya.
Selama bertahun-tahun, jalur itu berubah menjadi perangkap lumpur setiap musim hujan datang. Kini, badan jalan mulai mengeras. Batu belah ditata. Tanah diratakan. Harapan pelan-pelan dibangun bersamaan dengan setiap lapisan material yang dipadatkan.
Fajar Sinergi di Podium Kotawaringin
Jauh sebelum deru mesin merajai ladang, komitmen agung telah diikrarkan di atas podium upacara pada 22 April 2026. Hari itu, Bupati Kotawaringin Barat, Hj. Nurhidayah, berdiri anggun memimpin upacara pembukaan.
Di sampingnya, tegak lurus dengan sikap sempurna, Dansatgas Letkol Inf Makin mendampingi dengan khidmat. Sinergi kedua pemimpin di atas panggung ini menjadi simbol kokoh bahwa pemerintah daerah dan TNI AD berjalan dalam satu ketukan langkah yang sama.
Dengan ketukan palu yang mantap dari Hj. Nurhidayah, program kemanusiaan ini resmi dimulai. Di hadapan barisan prajurit dan masyarakat yang bergolak penuh semangat, sang Bupati menyampaikan pesan mendalam yang menegaskan pentingnya kolaborasi ini.
Kehadiran TNI melalui program TMMD, lanjut Nurhidayah, menjadi energi baru bagi percepatan pembangunan di wilayah pedesaan yang selama ini masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata yang langsung dirasakan warga.
“Pemerintah daerah memiliki keterbatasan, baik dari segi anggaran maupun jangkauan taktis yang cepat di lapangan. Namun, ketika TNI melalui Kodim 1014/Pangkalan Bun hadir membawa dedikasinya dan melebur bersama rakyat, hambatan geografis dan birokrasi itu seolah runtuh,” tegas Hj. Nurhidayah dengan suara penuh wibawa.

Ia menilai, TMMD tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik berupa jalan dan fasilitas umum, tetapi juga membangkitkan kembali semangat kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat desa.
“TMMD ini bukan sekadar proyek semen, batu, atau pengaspalan jalan. Ini adalah momentum sakral untuk menghidupkan kembali roh gotong royong yang menjadi akar kekuatan bangsa kita. Kami sangat mengapresiasi Letkol Inf Makin beserta seluruh jajaran Satgas yang dengan tulus menumpahkan keringatnya di bumi Pangkalan Banteng demi meretas jalan kesejahteraan bagi warga kami,” tambahnya, disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Kehadiran Letkol Inf Makin di sisi Bupati sejak detik pertama upacara menegaskan bahwa ketulusan TNI bukan sekadar urusan formalitas baris-berbaris, melainkan sebuah ikatan emosional untuk turun ke bumi, memeluk kesulitan rakyat, dan menyelesaikannya bersama-sama.
Amuk Cuaca dan Tegarnya Gotong Royong
Pengerjaan jalan sepanjang enam kilometer di wilayah Pangkalan Banteng tidak berjalan mudah. Kondisi cuaca yang kerap berubah menjadi tantangan utama bagi Satgas TMMD dan masyarakat yang terlibat dalam pembangunan tersebut.
Pada pagi hingga siang hari, terik matahari menyengat kawasan pengerjaan jalan. Namun, beberapa jam kemudian hujan deras turun dan mengubah badan jalan menjadi lumpur tebal yang menyulitkan kendaraan berat melintas maupun bekerja di lokasi.

Situasi itu kerap membuat dump truck pengangkut material terjebak di tengah jalur yang masih labil. Meski demikian, pekerjaan tidak dihentikan. Prajurit TNI bersama warga tetap melanjutkan pengerjaan dengan peralatan seadanya di tengah guyuran hujan.
Sejumlah warga tampak membantu mendorong kendaraan yang terperosok lumpur bersama anggota Satgas TMMD. Sementara di titik lain, sebagian prajurit dan masyarakat terus meratakan batu belah menggunakan sekop agar proses pengerasan jalan tetap berjalan sesuai target.

Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai kendala lapangan selama pelaksanaan TMMD di Desa Sungai Hijau.
Di tengah berkecamuknya perjuangan melawan alam tersebut, Kepala Staf Kodim (Kasdim) 1014/Pangkalan Bun, Mayor Inf Sumarna, hadir sebagai jangkar semangat lapangan. Selaku perwira pengawas seluruh sasaran kegiatan, Mayor Sumarna menolak diam di tenda. Beliau berjalan kaki menerobos hujan dan lumpur, mendatangi satu per satu titik pengerjaan fisik untuk memastikan kualitas dan keselamatan pasukan serta warga tetap terjaga.
“Sedikit lagi, dorong bersama-sama! Tarik napas, satu, dua, tiga… ya! Ingat, setiap jengkal batu yang kita pasang hari ini adalah jalan masa depan anak-anak kita sekolah!” seru Mayor Inf Sumarna dengan suara lantang, seketika membakar kembali sisa-sisa tenaga Satgas dan warga yang mulai didera lelah.
Sentuhan pengawasan yang humanis namun tegas dari Mayor Sumarna membuat ritme kerja yang berat itu berubah menjadi sebuah harmoni perjuangan yang indah.
Dinding Kayu Maria yang Berhenti Menangis

Aroma kayu meranti yang baru dipotong menyeruak di Dusun 1 RT 2 RW 2 Desa Sungai Hijau. Sebuah rumah berukuran bersahaja namun berdiri tegap dengan dinding yang rapi dan cat yang bersih. Ini adalah potret nyata dari sasaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dipugar total oleh Satgas TMMD. Rumah itu milik seorang wanita tua, Maria Mboko.
Selama bertahun-tahun, rumah lama Maria adalah saksi bisu dari kecemasan menahun. Setiap kali awan hitam menggantung di langit, dada Maria berdesir perih. Atapnya yang bolong-bolong membuat rumahnya kebanjiran, dan dinding kayunya yang lapuk seolah bersiap ambruk dihantam angin kencang.
Sore itu, Maria berdiri di beranda rumah barunya, memandangi tiang penyangga yang kini berdiri tegak hasil kerja gotong royong prajurit yang bahkan rela lembur hingga larut malam. Air matanya menitik, menyembunyikan rasa haru yang membuncah.
Lompatan Teknologi di Sela Hamparan Padi
Di sinilah inti dari perubahan besar itu bermuara. Ketika cangkul prajurit selesai membuka jalan di bumi, modernitas melompat ke langit. Di atas hamparan 58 hektar lahan ketahanan pangan Desa Sungai Hijau, terdengar suara dengung mekanis yang memecah keheningan sawah. Sebuah drone pertanian berukuran besar mengangkasa, bergerak presisi di sela-sela awan pagi.

Melalui program unggulan ketahanan pangan TNI AD, para petani lokal kini diperkenalkan dengan teknologi penerbang tanpa awak. Alat modern ini difungsikan untuk penyemprotan pupuk liquid dan pemantauan vegetasi padi secara berkala. Para petani tua ternganga kagum pekerjaan yang biasanya menghabiskan waktu berhari-hari di bawah terik beralaskan lumpur, kini dipangkas menjadi hitungan jam saja, menyajikan efisiensi yang belum pernah mereka bayangkan seumur hidup.
Sembari teknologi merajut langit desa, bumi Sungai Hijau turut diselamatkan masa depannya melalui gerakan penanaman pohon di area kritis. Kualitas hidup para petani pun ikut diangkat. Sebanyak 5 unit MCK sehat dibangun untuk sanitasi yang layak, beriringan dengan penancapan 5 titik fasilitas TNI AD Manunggal Air Bersih (TMAB). Air bersih kini mengalir tanpa batas, membebaskan punggung-punggung petani dari beban memikul ember saban sore.
Urusan spiritual pun tidak luput dari sentuhan pengabdian. Di Dusun 2 RT 01 RW 01, tempat wudhu Mushola Baiturohman yang dulunya memprihatinkan, kini berdiri megah dan representatif. Memberikan kesucian dan kekhusyukan bagi setiap warga desa yang datang memenuhi panggilan Sang Creator setelah seharian memeras peluh di ladang.
Menyembuhkan Jiwa, Membakar Nasionalisme
Dansatgas TMMD, Letkol Inf Makin, sejak awal menyadari bahwa membangun desa tidak boleh hanya terpaku pada benda mati seperti semen dan batu. “Infrastruktur adalah raganya, tetapi manusia di dalamnya adalah jiwanya. Keduanya harus dibangun serentak,” tegasnya. Manifestasi dari visi tersebut mewujud dalam rangkaian Sasaran Non-Fisik yang digelar secara masif, mengubah wajah Desa Sungai Hijau menjadi pusat pelayanan masyarakat yang humanis.

Pada siang hari, tenda-tenda Pelayanan Kesehatan Gratis dan Pelayanan KB dipadati oleh kaum ibu dan lansia yang ingin memeriksakan diri tanpa biaya.
Di sebelahnya, antrean panjang warga mengular di area Bazar Murah dan pembagian sembako, menjadi oase penyejuk di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok. Untuk memastikan masa depan generasi desa, edukasi gizi melalui Posyandu dan Posbindu PTM digelar, disusul pembagian 100 paket bantuan stunting.
Saat malam menjemput, balai desa dipenuhi riuh remaja dan tokoh masyarakat. Para perwira Satgas bergantian memberikan Penyuluhan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) serta Bela Negara, menyuntikkan kembali rasa bangga menjadi bagian dari NKRI. Ruang kelas juga diisi dengan Penyuluhan Kamtibmas dan Narkoba sebagai perisai moral pemuda desa dari ancaman zaman.
Bagi para pemuda yang bermimpi mengenakan seragam doreng, Penyuluhan Penerimaan/Werving TNI menjadi magnet utama. Mereka menyimak dengan mata berbinar-binar saat dijelaskan bahwa setiap anak desa memiliki hak yang sama untuk menjadi prajurit negara secara transparan dan tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Evaluasi di Bawah Tatapan Sang Kolonel

Kolonel Arh Fachrudin Usuluddin, S.E., M.Han. Tim Wasev yang tinjau lokasi kegiatan TMMD memberikan turut menyalurkan bantuanRoda waktu berputar hingga mengetuk hari Rabu, 6 Mei 2026. Ketegangan yang positif menyelimuti Posko TMMD seiring kedatangan Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) yang dipimpin langsung oleh Kolonel Arh Fachrudin Usuluddin, S.E., M.Han. Kedatangan perwira menengah ini adalah untuk menakar, menguji, dan memastikan bahwa setiap peluh yang tumpah di Sungai Hijau benar-benar mewujud jadi manfaat nyata yang akuntabel.
Kolonel Fachrudin menolak hanya duduk di balik meja. Didampingi oleh Letkol Inf Makin, beliau berjalan kaki menerobos sisa panas matahari, memeriksa kualitas fisik pengerasan jalan 6 kilometer. Langkahnya sempat terhenti di depan rumah baru Maria Mboko. Sang Kolonel mengetuk dinding rumah tersebut, lalu tersenyum puas mendengarkan testimoni langsung dari warga.
“TMMD ini bukan sekadar program taktis yang selesai saat anggarannya habis,” tutur Kolonel Fachrudin dengan nada dalam. “Ini adalah indikator kemanunggalan emosional antara TNI dan rakyat. Apa yang saya saksikan di Sungai Hijau mulai dari kualitas fisik jalan hingga tingginya animo masyarakat dalam kegiatan non-fisik menunjukkan bahwa roh gotong royong itu hidup melampaui target-target di atas kertas.”
Paripurna Tugas di Bawah Panji Panju Panjung
Waktu yang bergulir akhirnya mengantarkan program kemanusiaan ini pada puncaknya. Jika fajar TMMD Ke-128 dibuka dengan denting harapan, maka senjanya ditutup dengan paripurna dalam sebuah upacara khidmat yang menandai babak baru sejarah Desa Sungai Hijau.
Hari itu, lapangan desa yang dulunya becek kini tampak rapi, dipadati oleh barisan prajurit berseragam lengkap dan ratusan warga yang enggan melewatkan momen perpisahan. Berdiri di podium kehormatan dengan tatapan mata yang teduh namun berwibawa, Komandan Korem (Danrem) 102/Panju Panjung, Brigjen TNI Wimoko, S.E., M.Si., hadir langsung untuk memimpin upacara penutupan. Kehadiran jenderal bintang satu ini menjadi bukti betapa strategis dan berartinya setiap tetes keringat yang telah ditumpahkan di bumi Kotawaringin Barat.

Dalam amanatnya yang menggetarkan sanubari, Brigjen TNI Wimoko menyampaikan rasa bangga dan apresiasi tertingginya kepada Satgas TMMD di bawah komando Letkol Inf Makin, serta seluruh elemen masyarakat yang tidak pernah lelah bergotong royong.
“Apa yang kita saksikan hari ini di Desa Sungai Hijau adalah kristalisasi dari kemanunggalan TNI dan Rakyat. Kami tidak hanya menyerahkan jalan sepanjang 6 kilometer, rumah yang layak bagi Ibu Maria, atau fasilitas air bersih. Lebih dari itu, kami menyerahkan sebuah keyakinan bahwa dengan bersatu, tidak ada kemustahilan yang tidak bisa kita lalui,” tegas Danrem 102/Panju Panjung dengan suara lantang yang disambut tepuk tangan riuh.
Upacara penutupan tersebut ditandai dengan penandatanganan dan penyerahan naskah hasil proyek TMMD dari Dansatgas Letkol Inf Makin kepada Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, yang disaksikan langsung oleh Brigjen TNI Wimoko. Usai prosesi formal, Sang Jenderal bersama rombongan menyempatkan diri melintasi jalan baru yang kini telah kokoh, sembari menyapa ramah warga desa yang berjejer di sepanjang jalan dengan senyum sumringah.
Warisan yang Mengakar di Bumi Pangkalan Banteng
Kini, riuh mesin excavator telah berlalu, dan tenda-tenda barak prajurit mulai dikemas. Truk-truk hijau tentara perlahan bergerak meninggalkan Desa Sungai Hijau, menyisakan lambaian tangan sarat keharuan dari anak-anak desa dan para petani yang berdiri di tepi jalan.