Oleh: Miratus Sa’adah, M.Psi. (Psikolog)
Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan orang lain yang dilakukan dengan cara rasional, sedangkan memanusiakan-manusia adalah pondasi dasar hubungan interaksi antar manusia. Empati memanusiakan-manusia adalah salah satu komponen dalam kecerdasan emosi. Semakin baik kecerdasan emosi seseorang, maka semakin baik pula empati dalam memanusiakan-manusia orang tersebut, begitupun sebaliknya.
Kita bicara mengenai satu konsep teori empati dalam perspektif Carl Rogers. Carl Rogers adalah psikolog humanistik yang menekankan bahwa manusia pada dasarnya baik dan memiliki kemampuan untuk tumbuh menuju aktualisasi diri, jika diberi lingkungan yang mendukung, empati, dan penerimaan tanpa syarat. Empati menurut Carl Rogers adalah kemampuan untuk seolah-olah masuk ke dalam dunia internal orang lain secara akurat, merasakan emosi dan makna mereka tanpa kehilangan kesadaran bahwa itu adalah pengalaman orang lain (bukan milik kita).
Namun pada kenyataannya, data dilapangan berbanding terbalik dengan Carl Rogers, banyak manusia yang menyepelekan, menghakimi, bahkan membully orang lain jika orang tersebut sedang tidak baik-baik saja, alih-alih mendengarkan cerita dan keluh kesahnya, kita lebih sering mengadu nasib dengan kalimat “kamu masih mending, aku nih bla-bla-bla” atau “halah gitu aja ko lebay”. Manusia bercerita hanya ingin didengar, diterima tanpa dihakimi, dan dianggap keberadaannya. Jika memang kita tidak bisa berempati maka setidaknya kita bisa tetap diam, cukup mengeluarkan umpatan di dalam hati, agar tidak menyinggung/menyakiti hati orang lain.
Empati dapat kita lakukan secara langsung dan tidak langsung, empati secara tidak langsung biasanya banyak kita jumpai dalam komentar di sosial media, seperti komentar di instagram, faceboook, tiktok dan sosial media lainnya. Empati dalam komentar terlihat dari bagaimana para manusia menggunakan jarinya untuk mengetik komentar, apakah kometar tersebut berupa hate comment atau positive comment. Dalam hal ini banyak manusia yang tidak saling mengenal namun melakukan hate comment kepada konten manusia lain, ini salah satu contoh kecil yang sering kita jumpai dalam bentuk kurangnya empati kepada orang lain. Jika memang kita tidak menyukai konten orang tersebut, maka kita hanya perlu berempati dengan cara men-skip konten tersebut tanpa perlu menyakitinya dengan hate commend yang kita berikan.
Menumbuhkan empati memang sulit, namun bukan berarti tidak bisa, ada beberapa cara dalam menumbuhkan rasa empati, diantaranya: pertama, membuka diri, kita harus membuka diri untuk bisa mendengarkan orang lain, dengan cara, ketika orang lain bercerita kita tidak bermain HP atau sibuk dengan aktifitas sendiri. Kedua, mendengarkan secara aktif, ketika orang lain bercerita, usahakan tidak memotong cerita, memahami dunia orang lain melalui sudut pandang mereka sendiri seolah-olah kita adalah orang tersebut.
Ketiga, mendengar tanpa menghakimi, kecenderungan komunikasi manusia adalah membantah pernyataan orang lain jika tidak sepemikiran dengannya. Dalam tahap ini, menumbuhkan empati membutuhkan penundaan sementara terhadap pandangan, nilai, dan prasangka pribadi agar bisa menerima pengalaman orang lain apa adanya. Keempat, kepekaan terhadap orang lain, dalam hal ini manusia lebih dituntut mengerti atas apa yang dirasakan orang lain. Seperti, kita merasakan kesedihan atau kemarahan mereka tanpa ikut tenggelam dalam emosi tersebut secara pribadi. Dan terakhir, jika kita tidak bisa mengungkapkan empati kita melalui kata-kata. maka, cukup kita menepuk-nepuk pundak atau memegang punggung mereka, agar mereka dapat merasakan kehadiran kita, bahwa kita ada untuk mereka dan siap mendengarkan cerita mereka.
Harapan yang saya inginkan, kita semua mulai menerapkan empati memanusiakan manusia dengan cara menjadi pendengar yang baik, seni mendengarkan cerita dan keluh kesah manusia lain, seperti kita sedang mendengarkan alunan musik. Dengan demikian, kita akan menikmati cerita manusia tersebut tanpa menghakimi. Selain itu, ada satu manfaat yang tidak terlihat ketika menjadi pendengar yang baik yaitu, kita dapat memperkaya hidup karna kita dapat mempelajari dan memahami bagaimana perjalanan hidup yang sewaktu-waktu giliran kita yang berada di fase kehidupan tersebut. Seperti ungkapan “semua orang punya masanya”. Sehingga ketika “masa” kita sedang tidak baik-baik saja datang, maka kita sudah siap dengan segala kondisi beserta solusinya. (**)
Editor: Andrian