
INTIMNEWS.COM, PANGKALAN BUN – Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai kilat dan angin kencang, diprediksi masih berlangsung hingga 15 Oktober 2022 di sejumlah wilayah, termasuk di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan, cuaca ekstrem yang melanda sejak awal Oktober 2022 diperkirakan terus berlanjut.
Peringatan dini cuaca ekstrem ini disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat Aqil Ihsan. BMKG telah mengeluarkan rilis potensi cuaca ekstrem sebelumnya untuk periode 2-8 Oktober 2022.
“Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai kilat dan angin kencang, diprediksi masih berlangsung hingga 15 Oktober 2022 di sejumlah wilayah, termasuk di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng,” kata Aqil.
Dan, lanjut Aqil berdasarkan analisis terkini, dinamika atmosfer di wilayah Indonesia, termasuk di Kotawaringin Barat (Kobar) sendiri masih cukup signifikan mengakibatkan peningkatan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah dalam sepekan ke depan.
Dari hasil analisis dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya sirkulasi siklonik yang membentuk pola belokan angin serta perlambatan kecepatan angin yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.
“Kemudian aktifnya fenomena gelombang atmosfer seperti MJO (Madden Jullian Oscillation) yang berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin juga secara tidak langsung dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan,” berdasarkan BMKG dalam rilis, Sabtu (8/10), ucap Aqil.
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprediksikan potensi curah hujan dengan Intensitas Sedang-Lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang untuk periode 9 – 15 Oktober 2022.
Sementara di Kotawaringin Barat musim hujan hingga Maret 2023, dan puncaknya di bulan November dan Desember 2022, termasuk daerah tetangga Sukamara juga
Menurutnya untuk Kabupaten Kobar bagian utara puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Maret tahun depan, sementara untuk Kobar bagian selatan puncak musim hujan pada bulan Desember.
Kemudian, kata Aqil, ada tiga faktor yang mendasari hal tersebut, yaitu anomali suhu permukaan laut, gelombang ekuatorial, dan pola angin.
Dijelaskannya, analisis dari suhu permukaan laut menunjukkan bahwa suhu di bagian selatan Kalimantan Tengah, bernilai positif 0.5 sampai 1.0 derajat celcius, hal itu menunjukkan bahwa perairan di bagian selatan Kalteng memiliki suhu yang relatif lebih hangat dari kondisi normal.
Dengan begitu maka faktor tersebut dapat menimbulkan penguatan yang lebih tinggi di wilayah kejadian, sehingga mendukung pertumbuhan awan penghasil hujan.
“Untuk beberapa hari ke depan di Kabupaten Kotawaringin Barat masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” pungkasnya.
Penulis: Yusro
Editor: Andrian